SI TANTE CANTIK NAFSUAN dan GAME SEKS CALON PENGANTIN

ANAK ABG JAMAN NOW dan PERSELINGKUHAN OKNUM PEGAWAI

Cerita Tante Girang – cerita bokep ini adalah cerita mesum ku dengan seorang tante.. ini lah cerita dewasa ku.. Usiaku saat ini menginjak 35 tahun, menikah dan telah dikaruniai 2 anak, entah kenapa, sesuatu membuatku teringat akan masa laluku tersebut. Kisahku ini terjadi saat aku berumur 20-an tahun, dan aku ingin menceritakan, tepatnya berbagi cerita mengenai pengalaman hidupku, mungkin bisa menjadi pelajaran bagi pembaca sekalian. yang jelas ini adalah murni ceritaku, bukan cerita orang lain apalagi repost… Haram dah…   Sebut saja namaku Fandi, selepas masa sekolah SMA,aku ingin melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi, namun apa mau dikata, orangtuaku yang hanya bekerja sebagai karyawan sebuah perusahan BUMN yang tergolong kurang bonafid (sorry Be, bukan nyepelein) membuat keinginanku melanjutkan pendidikankupun sirna. “Jangankan buat elu kuliah Tong, buat makan aja kita musti banyak2 ibadah !”, puasa senin-kemis maksudnya !, puasanya senin buka-nya kemis !, hiks….  Akhirnya aku mengambil jalan pintas (bukan jalan tikus, ato gang2 kecil maksudnya) dengan mengikuti kursus komputer yang berada di kotaku, selesai kursus aku mencoba untuk mengadu nasib dengan melamar pekerjaan disebuah perusahaan konsultan keuangan.  Setelah melewati proses seleksi penerimaan karyawan (sampe disuruh2 push up dan berlari2 kecil), akhirnya aku diterima diperusahaan tersebut, dengan syarat aku mau ditempatkan dikota yang ditunjuk oleh perusahaan selama beberapa tahun. Aku menjadi bimbang, antara mencari kerja ditempat lain atau menerima pekerjaan dengan syarat

ditempatkan diluar kota yang mungkin aku belum pernah menginjaknya, Ditengah kebimbanganku itu, aku menceritakan hal tersebut kepada kedua orangtuaku. akhirnya orang tuaku menganjurkan aku untuk mencobanya, “Kamu coba aja dulu, kalo kamu tidak betah, toh kamu bisa keluar dan mencari lagi !” saran bapakku (ya kalo dapet, emang nyari kerja gampah apah ?). akhirnya dengan tekad yang setengah bulat (kalo telanjang bulat, ntar dibilang orang gila) aku memberanikan diri untuk menerima pekerjaan tersebut. Akhirnya aku ditempatkan di kota B, yang letaknya jauh dari kota asalku. Aku menceritakan hal ini kepada orang tuaku, dengan antusias mereka mengatakan bahwa dikota ini ada saudara sepupu ibuku, dan kedua orangtuaku menyarankan agar aku sementara tinggal dulu dirumah sepupu ibuku tersebut.  Aku mulanya ragu, bagaimana aku harus tinggal dirumah orang yang aku belum mengenalnya sama sekali ?, Ibu dan Bapak menasehatiku dan berpesan supaya aku pandai “Menitipkan Diri” di rumah yang aku tinggali nanti. akhirnya, aku pada waktu yang telah ditentukan berangkat menuju kota B dengan segudang tanda tanya yang menggelayutiku…. (bukan toket…gelayutan, ntu mah nanti gw ceritain !)  Tertegun aku menatap rumah didepanku, bukan serem atau angker, tapi mewah banget, gede, halaman luas ada pohon cemaranya lagi, (tau pohon cemara gak ?, itu.. yang kaya disinetron2 orang kaya, bukan pohon beringin yang dipilem2 horor !, tempat burung kutilang bernyanyi…) 

Setelah memencet bel cukup lama, tampak seorang wanita setengah baya berlari tergopoh-gopoh (pasti ngebayangin toketnya gondal-gandul deh, …gak yee… tipis banget tuh dadanya) mendekati pagar pintu yang cukup tinggi dan runcing ujungnya itu, (kaya senjatamya tentara keraton).  “Cari siapa ya ?” kata wanita itu dengan mimik gimanaaa gitu… Set Dah nih ibu, udah tampangnya cakep enggak, jelek enggak, (serem tapi !), memandangku curiga menatap penuh tanya… (kaya lagunya obbie mesakh, yang sekarang susah cari kasetnya).  “Ibu ada ?” Tanyaku, “Ibu Siapa ?” Sahutnya lagi, dengan muka yang sok di tegas2in. “eeeeee….. Bu Mala ” kataku pelan dan Ragu. “Ini Den Fandi ?” tanya ibu itu tegas, namun tidak lugas dan dapat dipercaya, kaya guru lagi nanyain PR kita kalo kita lagi males ngerjain. “Iya Bu ” jawabku lirih, sambil menunduk dan melihat kuku tanganku, takut diperiksa kalo ada yg item.  “Masuk Den, Ibu udah nunggu dari tadi ” katanya sambil cepat2 membuka gerendel pintu dan cepat2 merubah mimik mukanya yang tadi keliatan seperti suster ngesot menjadi seperti tamara, padahal jauh banget, malah lebih mirip mpok nori.  Perlu diketahui pembaca, biar jelek2 gini aku juga masih ada darah ningrat, di akte kelahiranku, namaku aja depannya ada huruf R terus dikasih Titik, (artinya Raden bukan Robin temennya Batman), emang masih musim ? pake raden2 segala ?, bangga campur malu sih kalo pas diabsen dan dipanggil Raden, semua menengok ke arah aku, ngarepin, kalo yang nunjuk tangan pake jubah dan diatasnya ada mahkota, dan dipergelangan tangannya minimal ada gelang emaslah barang beberapa gram, gak taunya, yang ngacung gw, udah jelek, kucel, mana tangannya busikan lagi, rada2 nyesel sih mereka nengok, bikin pegel leher aja !. kalo ada yang mau pengen aku jual aja nih, gelar raden aku. he.. he…  Aku mengikuti wanita itu, yang kelak aku tahu bahwa dia adalah satu2nya pembantu dirumah ini, Bi Iyem, begitu ia dipanggil, menginjak usianya yang mendekati 50 tahun, hidup tanpa menikah, menurutnya, ia pernah menikah, tetapi suaminya pergi meninggalkannya karena tidak kunjung dikaruniai anak.

Baca Juga Cerita Mesum Hot : MENYETUBUHI MERTUAKU YANG JANDA dan GOYANGAN NIKMAT MBAK FEMI

Alasan klise, pembenaran terhadap kesalahan, daripada tinggal dikampung bengong dan tanpa ada yang mengurus lebih baik ia kerja di kota sebagai pembantu. lumayanlah, itung2 dapat makan, tidur gratis dan lebaran bisa mudik, desek2an di bis, kali aja nemu jodoh (ngarep !!!), dengan membawa oleh2 buat sanak sodara dikampung.  Dengan tampang udik (katro, ndeso), aku menatap ruangan dalam rumah yang serba mewah itu. “Silahkan duduk Den, tunggu sebentar, ibu baru selesai mandi, Nanti Bibi bilang ke Ibu, Aden sudah datang” kata Bi Iyem sambil mempersilahkan aku duduk di ruang tamu.  Tak lama, seorang wanita datang menghampiriku, “Ini Fandi ?” sahutnya sambil senyum, aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, “Kamu sudah besar, terakhir kali Tante melihatmu, kamu masih SD kali ya ? ” sambil memelukku dan mencium pipiku kiri kanan, (mudah2an gak disomasi dan ditegur kaya tukul). Kaget aku dengan perlakuannya yang ramah ini dan berusaha membalas cipika-cipiki beliau.  Wangi beneeer, abis mandi, parfumnya aja asli import, yang kalo disemprotin dibadan, wanginya baru ilang besok, emang elo yang kalo pake parfum seketemunya, kalo pas lagi nebeng mobil temen, liat pewangi mobil maen semprot2 aja ke badan, yang ada wanginya nyebar seruangan kaya abis disemprot foging nyamuk, mendingan wangi kuburan baru, kembang tujuh rupa.  “Gimana kabar Bapak dan Ibu kamu disana ? ” tanyanya, dan semua pertanyaan2 basa basi pun diajukan olehnya, (gak perlu semuanya kan harus diceritain pembaca ?, bisa pegel nih gw ngetik, ini aja udah ngos2an). Setelah kurang lebih beberapa jam kami berbasa basi ria (lama amat sih ? emang ngobrolin apaan aja sech ? cape dech !). “Kamu Istirahat aja dulu, mungkin kamu capek sehabis perjalanan” kata Tante Mala kemudian, “Bi Iyem udah menyiapkan kamar untuk kamu, Tante sore ini mau senam dulu, nanti pulang sebelum magrib, kalo kamu mau makan, makan aja dulu, nanti kita sama2 makan malam ya ?”, lanjut Tanteku, “Iya Tante, saya tadi sudah makan, mungkin mau tidur2an aja dulu” sahutku menjawab. 

Sang Tante pun mempersilahkan aku untuk menempati sebuah kamar yang berada paling belakang dilantai atas rumah tersebut, perlu diketahui bahwa kamar dirumah ini semuanya ada 5 dan hampir semuanya berada di lantai atas, hanya satu kamar dibawah untuk pembantu, satu kamar ditempati oleh Tanteku itu dan 2 Kamar lain ditempati oleh anak-anaknya. Aku menempati kamar belakang yang menghadap taman dan kolam renang. Waw, tempat yang strategis. didalam kamar layaknya hotel berbintang, kasur yang empuk dan lebar cukup buat 2 orang, televisi 21″, ada Video Tape Playernya lagi. mantaap… (Jaman ntu belom Ada DVDlah, jangankan DVD, VCD aja belom ada!).  Mungkin karena lelah, aku langsung merebahkan badanku dan tertidur lelap….  Jam 7 lewat aku dibangunkan Bi Iyem, “Den.. Den… Bangun Den…” terdengar suara Bi Iyem memanggilku sambil mengetuk2 halus pintu kamarku (bukan gedor2lah… emangnya lagi digerebek di hotel ?), “Sudah ditunggu sama Ibu dibawah untuk makan malam ” sahutnya kemudian, “Iya Bi, sebentar lagi saya kebawah, saya mau mandi dulu !” jawabku, berusaha untuk bangun, berjalan dan membuka pintu. Aku pun langsung mandi dengan menggunakan Kamar mandi yang letaknya didepan kamarku, juga merupakan kamar mandi yang sering dipakai oleh anak2 dikeluarga ini, sedangkan Tante Mala menggunakan kamar mandi yang berada didalam kamar beliau. Selesai mandi, aku menuju ke ruang keluarga dan ruang makan dan disana telah menunggu 4 orang yang kesemuanya perempuan dan cantik2, salah satunya adalah Tante Mala, dan aku lalu dikenalkan oleh Tante Mala kepada ketiga putrinya.

“Fandi, ini anak2 Tante, kmu mungkin belum mengenal mereka semua, karena memang mungkin dulu sekali waktu kalian masih kecil2 tante masih suka mengajak anak2 tante berkunjung ke keluarga, tp karena mereka sudah besar, susah sekali mengajak mereka” tutur Tanteku. “Om Mirza kebetulan sedang diluar kota, mungkin baru minggu ini om kamu kembali, jadi beginilah disini, kalo om kamu tidak ada, ya tidak ada lelaki dirumah ini ” sahutnya kemudian.  Tante Mala, merupakan sepupu ibuku, satu kakek, lain ibu lain ayah (ya namanya juga sepupu, kalo satu ibu satu bapak, sodara sekandung lah), menikah diusia 18 tahun, diumurnya yang mendekati 38 tahun, dikaruniai 3 orang anak, semuanya putri dan cantik2 seperti ibunya, yang tertua Moza 20 thn, yang kedua Mita 18 tahun dan si bontot…. Mumun (lah kok, jauh amat ? mumun, ky nama tukang pecel ?) bukan deng, yg bontot namana Maya, masih SMA 17 Tahun.  Om Mirza, suami Tante Mala, berusia 48 tahun, selisih 10 tahun dengan Tanteku, orangnya ganteng, dengan kumis tebal yang makin membuatnya tampak wibawa, sebagai pengusaha kontraktor pekerjaan sipil yang cukup sukses dengan proyek2 pemerintah. Karena kesibukannya, bisa dibilang ia jarang dirumah, kadang pergi pagi – pulang malam, kadang pergi malam – pulang pagi, kadang pergi lama, bisa 1 sampe 2 bulanan – baru pulang, kadang nganggur dirumah lamaaa – gak pergi2 (kalo lagi gak ada proyek), tapi dia gak pernah sih yang namanya pergi tiga kali puasa, tiga kali lebaran (ntu mah bang Toyib!). 

Dalam usianya yang menginjak paruh baya, Tante Mala tidak menampilkan sosok sebagai wanita yang keibuan (kaya ibu2 maksudnya), malah ia lebih nampak sebagai wanita feminin, dengan dandanan yang lebih nampak sebagai wanita gedongan kebanyakan, emangnya emak kite, baru umur 40 taon aja udah kaya umur gocap, boro2 buat beli lipstick, buat beli beras aja udah susah, sukur2 ada uang lebih belanja, kembalian mecin, bisa beli pupur buat bedak, Penampilan Tante Mala memang jauh menggambarkan dari umur sebenarnya. Tepat ditengah ruang keluarga dipajang foto keluarga mereka berlima, Sang Ayah duduk dibangku dan berdiri dibelakangnya 4 wanita cantik layaknya dewa yang dikelilingi oleh 4 bidadari, dan yang mengherankan aku, Tante Mala nampak seperti kakak dari putri2nya, cantik beneeer.  Mungkin untuk menjaga kebugaran dan biar keliatan selalu awet muda, tante Mala rajin merawat tubuhnya, ikutan senam seminggu 2-3 kali, ke Spa seminggu sekali, ke salon semau dia, belum lagi berenang yang tinggal nyebur, yang jelas, uang ada semua ada. Emangnya kita, boro2 ke salon, buat nyukur aja (potong rambut) selama masih ada temen yang bisa nyukur, ya kita manfaatin, dengan modal gunting ma kaca spion bekas, trus nyari tempat yang adem, ya jadi lah kita nyukur, duit buat nyukur lumayan kan bisa beli udud setengah bungkus, Ada kembalian duit logam 2 ratus perak, pas bener buat iseng nyabutin jenggot sambil sesekali besiul godain cewek yang lewat !.  Duh cantik2 bener mereka, sambil mengenalkan diri aku memandang mereka satu persatu, sudah ibunya cantik bapaknya cakep dan ganteng, kaya, yaa pantaslah mereka seperti ini, jadi iri, hehehe…. menunduk malu, yaa maklumlah, tampang gw pan pas2an..

ANAK ABG JAMAN NOW dan PERSELINGKUHAN OKNUM PEGAWAI

masih untung idup, boro2 berani naksir cewek, masih sukur waktu godain cewek, mereka cuma melengos aja, coba kalo diludahin.. ancurrrr dah, maklumlah, aku kan gini2 juga masih keturanan indo, Indo Jerman, Ibu Jereng Bapak Preman…. hehehe…  Akhirnya suasana pun menjadi akrab, pembicaraan demi pembicaraan mengalir dengan lancar, karena mereka jauh lebih muda dari aku, mereka memanggilku dengan panggilan “Aa” yang artinya kakak. Kaya Aa Gym gituh .. hehehe.. Selama makan malam, banyak pembicaraan yang terjadi, dan aku berusaha untuk mendalami mereka satu persatu (mendalami maksudnya disini artinya memahami karakter dan sifat mereka, bukan mendalami yang itu !!!).  (Seriusin ah ceritanya…..)  Tante Mala, lama-lama kalo kuperhatikan, wajah mirip seperti wajah artis Vina Panduwinata, dengan alis tebal, hidung yang bangir mancung, bibir tipis sensual, pipi halus, rambut panjang sebahu lebih sedikit, ikal bergelombang, tinggi sekitar 158 cm, dengan payudara yang cukup besar menurutku, mungkin dengan lingkar dada 36 dan bercup C, karena dengan mengenakan baju senam, dengan belahan dada yang cukup rendah, selain mengambarkan lekuk tubuhnya yang membuat setiap mata lelaki melotot dan seakan tak mau lepas memandangnya. Pabrik susu didadanya, layaknya seperti mau tumpah. putih, ranum, dan tampak masih kencang untuk wanita seusianya, dengan mengenakan Bra yang terlihat kokoh melindungi, namun seakan tidak muat menampung seluruh Isinya, bikin jantung deg.. deg.. serrr….. Dan yang lebih membuat pikiranku merantau keawang-awang adalah bentuk pinggul dan pantat beliau, begitu indah, dengan pinggang kecil dan pantat bulat penuh, songgeng seperti bebek seakan mengajak setiap lelaki untuk mengikuti dari belakang kemanapun dia pergi.  Moza, diusianya yang baru menginjak 20 tahun, kuliah tingkat tiga di sebuah PTS ternama, tampak seperti gadis dewasa dengan tubuh tinggi semampai, sekitar 168cm (kayaknya aku kalah tinggi deh, aku cuma 163 cm, maklum lah.. kurang gizi ma keturunan yang kurang bagus .. hiks), tubuh sintal padat, semok, bohay, kenceng deh… mirip seperti sang ibu dengan bentuk payudara yang indah dan menantang.

Baca Juga Cerita Mesum Dewasa : KEHANGATAN TUBUH MILIK ISTRI BOSKU dan BEKAS SUAMI BOS MENODAI SAYA

Dengan wajah yang melankolis, alis tebal, bentuk mata yang bulat dengan sorot mata jernih, dan dilengkapi dengan bibirnya yang tipis merekah, dengan lisptick tipis membuat wajahnya semakin tampak menarik, dengan rambut panjang sedada, bulu2 halus menjalari seluruh tubuhnya terutama dibagian lengan dan kakinya, tampak eksotis, membuat cowok-cowok ingin mendekatinya dan memacarinya dengan segala cara. yang bikin lengkap adalah bentuk pantatnya yang mengikuti jejak sang ibu, duh.. pusing deh… apalagi ketika melihat dia dengan celana pendek ketat. bawaannya yang kalem, lembut, penuh kedewasaan, orang tak akan menyangka kalo dia masih berumur 20 tahun, orang pasti akan menyangka dia berumur 24 ato 25 tahun.  Mita, Mahasiswi tingkat pertama sebuah kampus pariwisata terkenal, dengan potongan rambut pendek seleher, muka berbentuk oval, hidungnya yang bangir bulat, bibirnya tipis agak lebar seperti penyanyi rosa memperlihatkan sifatnya yang murah senyum, periang, seperti layaknya anak mahasiswi seusianya. tinggi 160cm, dengan berat yang lumayan menurutku, namun jelas memperlihatkan kemontokan dan kemolekan tubuhnya, ditambah lagi dengan gaya berpakaian yang tampak super cuek, kuliah dengan menggunakan baju seragam yang cukup tipis dengan rok lebih dari 10cm diatas lutut, seperti dianjurkan kampus, dan sering tanpa menggunakan kaos dalam, jelas mengundang mata cowok2 untuk lebih menyelami isi dada dari cewek ini, cekakak-cekikik ditelpon merupakan kegiatan rutin sehari-harinya.

GAME SEKS CALON PENGANTIN

Pipit mematut diri di depan cermin, Ini adalah hari yang paling di nantikannya, hari pernikahannya, Ada banyak alasan kenapa akhirnya dia bersedia menikah dengan Bima. Dan seks adalah salah satunya, meskipun Bima hanya mempunyai sebuah k0ntol yang kecil saja. Tapi sex dengan lelaki lain menjadi jauh lebih menyenangkan meskipun sejak Bima sudah menyematkan sebuah cincin berlian dijarinya. Dia merasa bersalah dan membutuhkannya dalam waktu yang bersamaan, setiap kali dia merasakan cincin tersebut dijarinya ketika lelaki lain sedang meyetubuhi mEmeknya yang dijanjikannya hanya untuk Bima.  Dia ingat ketika malam dimana Bima melamarnya. Dia tersenyum, mengangguk dan berkata “ya”, menciumnya dan menikmati bagaimana nyamannya rasa memakai cincin berlian yang sangat mahal tersebut. Dan setelah makan malam bersama Bima itu, dia langsung menghubungi Elang, begitu mobil Bima hilang dari pandangan, mengundangnya datang ke rumah kontrakannya. Pipit menunggu Elang dengan tanpa mengenakan selembar pakaianpun untuk menutupi tubuhnya yang berbaring menunggu di atas tempat tidurnya, cincin berlian yang baru saja diberikan oleh Bima adalah satu-satunya benda yang melekat di tubuh telanjangnya. 

Ada desiran aneh terasa ketika matanya menangkap kilauan cincin berlian itu waktu tangannya menggenggam k0ntol gemuk Elang. Tubuhnya tergetar oleh gairah liar ketika tangannya mencakup kedua payudaranya dengan sperma Elang yang melumuri cincin itu. Dan oergasme yang diraihnya malam itu, yang tentu saja bersama lelaki lain selain tunangannya, sangat hebat – tangan yang tak dilingkari cincin menggosok kelentitnya dengan cepat sedangkan dia menjilati sperma Elang yang berada di cincin berliannya. Dia menjadi ketagihan dengan hal ini dan berencana akan melakukannya lagi nanti pada waktu upacara perkawinannya nanti.  Ketika ini, dia memandangi pantulan dirinya di dalam cermin mengenakan gaun pengantinnya. Dia terlihat menawan, dan dia sadar akan hal itu. Pipit tersenyum. Dia membayangkan nanti pada upacara pernikahannya, teman-teman Bima akan banyak yang hadir dan akan banyak lelaki lain yang akan dipilihnya salah satunya untuk memenuhu fantasi liarnya. MEmeknya berdenyut, dan dia membayangkan apa yang akan dilakukannya untuk membuat hari ini lebih komplit dan sempurna, ketika lonceng berbunyi nanti. Ketika dia membuka pintu, ayah Bima, Rengga, sedang berdiri di sana, bersiap untuk menjemputnya dan mengantarnya ke gereja. Pipit menarik nafas dalam-dalam. Dia tahu lelaki di hadapannya ini sangat merangsangnya-beberapa bulan belakangan ini dia telah berusaha untuk menggodanya, dan dia pernah mendengar lelaki ini melakukan masturbasi di kamar mandi ketika dia datang berkunjung ke rumah Bima, menyebut namanya. Pipit belum pasti apakah mudah nantinya untuk menggoda Rengga agar akhirnya mau bersetubuh dengannya, tapi sekarang dia akan mencari tahu tentang hal tersebut.

Dia tersenyum lebar ketika menangkap mata Rengga yang manatap tubuhnya yang dibalut gaun pengantin ketat untuk beberapa ketika.  “Ayah” tegurnya, dan memberinya sebuah ciuman kecil di pipinya. Parfumnya yang menggoda menyelimuti penciuman Rengga. “Ayah datang terlalu cepat, aku belum siap. Tapi ayah dapat membantuku.” Digenggamnya tangan Rengga dan menariknya masuk ke dalam rumah kontrakannya, tempat yang akan segera ditinggalkannya nanti setelah menikah dengan Bima. Cerita Sex Terbaru  Rengga mengikutinya dengan dada yang berbar kencang. Ini adalah ketika yang diimpikannya. Dia heran bagaimana anaknya yang pemalu dan bisa dikatakan kurang pergaulan itu dapat menikahi seorang wanita cantik dan menggoda seperti ini, tapi dia senang karena nantinya dia akan mempunyai lebih banyak waktu lagi untuk berdekatan dengan wanita ini. “Apa yang bisa ku bantu?”  Pipit berhenti di ruang tengahnya yang nyaman lalu duduk di sebuah meja.  “Aku belum memasang kaitan stockingku… dan sekarang, dengan pakaian ini… aku kesulitan untuk memasangnya.”  Suaranya terdengar manis, tapi matanya berkilat liar menggoda. Diangkatnya tepian gaun pengantinnya, kakinya yang dibungkus dengan stocking putih dan sepatu bertumit tinggi langsung terpampang.  “Bisakah ayah membantuku memasangnya?”  Rengga ragu-ragu untuk beberapa waktu. Jantungnya berdetak semakin cepat. Apakah ini sebuah “undangan” untuk sesuatu yang lain lagi, ataukah hanya sebuah permintaan tolong yang biasa saja? Dia mengangguk.  “Oh, tentu…” dia berlutut di hadapan calon istri anaknya dan bergerak meraih kaitan stockingnya.

Jemarinya sedikit gemetar ketika Pipit dengan pelan mengangkat kakinya . Rengga berusaha untuk memasangkan kaitan stocking itu.  Pipit menggigit bibir bawahnya menggoda, dan lebih menaikkan gaunnya, menampakkan paha panjangnya yang dibalut stocking putih. Dia dapat merasakan sebuah perasaan yang tak asing mulai bergejolak dalam dadanya., sebuah tekanan nikmat yang membuat nafasnya semakin sesak, membuat nafasnya semakin memburu, dan membuatnya semakin melebarkan kakinya. Dia dapat merasakan cairannya mulai membasahi. Kaitan itu akhirnya terpasang di sekitar lututnya. Rengga menghentikan gerakannya, tak yakin apakah dia sudah memasangkan dengan benar.  “Ayah, seharusnya lebih ke atas lagi…” tangan calon ayah mertuanya yang berada sedikit dibawah mEmeknya membuatnya menjadi berdenyut dengan liar.  Keragu-raguan itu hanya bertahan untuk beberapa ketika saja. Tangan Rengga menarik kaitan itu semakin ke atas ketika calon istri anaknya meneruskan mengangkat gaun pengantinnya semakin naik. Dia menelan ludah membasahi tenggorokannya yang terasa kering ketika akhirnya kaitan itu terpasang pada tempatnya di bagian paling atas stockingnya. Dia yakin dapat mencium aroma dari mEmek Pipit sekarang, yang membuat jantungnya seakan hendak melompat keluar dari dadanya. Tangannya berhenti, kaitan stocking itu melingari bagian atas paha Pipit… dan dia merasakan bagian gaun pengantin itu terjatuh ketika Pipit melepaskan sebelah pegangannya untuk meraih bagian belakang kepalanya dan mengarahkan wajah ayah calon suaminya mendekat ke mEmeknya, dan Rengga menemukan tak ada celana dalam yang terpasang di sana.  Pipit melenguh dan memejamkan matanya ketika harapannya terkabul. Rengga tak memprotes atau menolaknya, lidahnya menjilat tepat pada bibir mEmeknya, dan Pipit semakin basah dengan cairan gairahnya. Dengan sebelah tangan yang masih menahan gaun pengantinnya ke atas, dan yang satunya lagi menekan wajah calon mertuanya ke mEmeknya yang terbakar, dia mulai menggoyangkannya perlahan.

Baca Juga Cerita Mesum Seks : TIARA WANITA PELAMPIASAN SEX KU dan PIJATAN HINGGA MASUKNYA RUDAL BESAR DI MEMEK KU

Ini serasa di surga, dan menyadari apa yang diperbuatnya tepat di hari pernikahannya membuat tubuhnya semakin menggelinjang. Dia mengerang ketika lidah Rengga memasuki lubangnya, dan lidah itu mulai bergerak, menghisap bibir mEmeknya, menjilati kelentitnya, wajah Rengga belepotan dengan cairan kewanitaan calon istri anaknya di ruang tengah rumah kontrakannya.  Semakin Pipit menggelinjang, semakin keras pula Rengga menghisapnya.  “Oh ya ayah… jilat mEmekku… buat aku orgasme sebelum aku mengucapkan janjiku pada putramu… kumohon…” perasaan salah akan apa yang mereka perbuat membuat Pipit dengan cepat meraih orgasmenya, dan hampir saja dia rubuh menimpa Rengga. Ini bukan seperti orgasme yang biasa diraihnya, ini seperti rangkaian ombak yang menggulung tubuhnya, merenggut setiap sel kenikmatan dari dalam tubuhnya.  Cairan Pipit terasa nikmat pada lidah Rengga, dia menjilat dan menghisap mEmeknya seperti seorang lelaki yang kehausan. K0ntolnya terasa sakit dalam celananya, cairan pre cum nya membasahi bagian depan tuxedonya.  Pipit kembali menggelinjang, lalu dengan pelan bergerak mundur, membiarkan gaun pengantinnya menutupi ayah Bima. Lalu dia membuka resleting di bagian belakang gaunnya dan membiarkannya jatuh menuruni tubuhnya. Dia melangkah keluar dari tumpukan gaun pengantinnya yang tergeletak di atas lantai, hanya mengenakan sepatu bertumit tingginya, bra, dan tentu saja stocking beserta kaitannya yang baru saja dipasangkan Rengga pada pahanya. Pipit tersenyum padanya, mEmeknya berkilat dengan cairannya.  “Aku akan ke kamar mandi untuk membetulkan make-up, kalau ayah memerlukan sesuatu…” dia berkata dengan mengedipkan matanya.

Rengga menatapnya melenggang dan menghilang di balik pintu, begitu feminim dan menggoda. Hanya beberapa detik kemudian dia menyusulnya.  Ketika dia memasuki kamar mandi dan berdiri di depan sebuah cermin di atas washtafel, dan sudah mengenakan sebuah celana dalam berwana putih. Rengga tahu kalau ini adalah salah satu godaannya yang manis, dan dia telah siap untuk bermain bersamanya.  Pipit melihatnya masuk, dan dengan sebuah gerakan yang cantik membuka lebar pahanya. Rengga melangkah ke belakangnya, mata mereka saling terkunci dalam masing-masing bayangannya dalam cermin. Tangan Rengga bergerak ke bagian depan tubuhnya, menggenggam payudaranya yang masih ditutupi bra. Pipit tersenyum. “Tapi ayah, bukankah ini tak layak dilakukan oleh seorang ayah calon pengantin pria?”  Rengga memandangi bagaimana bibir Pipit yang membuka ketika bicara, mendengarkan hembusan hangat nafasnya, seiring dengan tangannya yang meremasi payudaranya dalam balutan bra. “Tak se layak apa yang akan kulakukan padamu.”  Pipit menggigit bibirnya dan mendorong pantatnya menekan k0ntolnya yang mengeras.  “Aku nggak sabar,” bisiknya.  Sejenak kemudian Pipit merasakan tangan calon ayah mertuanya berada di belakangnya ketika dia melepaskan sabuk dan membiarkan celananya jatuh turun. Dengan mudah tangan Rengga menarik celana dalamnya ke samping. Pipit menarik nafas dalam-dalam ketika dia merasakan daging kepala k0ntolnya menekan bibir mEmeknya yang masih basah..

Dia mengerang dan memegangi tepian washtafel ketika dengan perlahan Rengga mulai mendorongkan batang k0ntol itu memasukinya. Pipit merasakan bibir mEmeknya menjadi terdorong ke dalam, merasakan dinding bagian dalamnya melebar untuk menerimanya.  “Apa ini terasa lebih baik dari k0ntol putaku?” Rengga tersenyum puas. Dia tahu se berapa ukuran k0ntol putranya, dan dia yakin kalau putranya mewarisinya dari garis ibunya. MEmek calon istri putranya terasa sangat menakjubkan pada batang k0ntolnya, dengan cepat dia sadar kalau dia layak untuk menyetubuhi calon menantunya lebih sering dibandingkan putranya. Dan dia mendapatkan firasat kalau dia bisa melakukannya kapanpun mereka memiliki kesempatan.  “Oh brengsek!!! Ya Ayah… ayo… beri aku yang terbaik untuk merayakan pernikahanku dengan putra kecilmu.” dia lebih membungkuk ke bawah, dan merasakan tangan Rengga pada pinggulnya. Dia mencengkeramnya dengan erat dan mulai memompanya keluar masuk. Mereka sadar akan terlambat menghadiri upacara pernikahan, tapi Rengga memastikan mEmek sang mempelai wanita benar-benar berdenyut menghisap sehabis persetubuhan keras yang lama. Pipit mengerang dan menjerit dan bergoyang pada batang k0ntol itu, mengimbangi gerakannya. Mereka saling memandangi bayangan mereka berdua di dalam cermin ketika menyalurkan nafsu terlarang mereka.  Pipit merasa teramat sangat nakal, disetubuhi dengan layak dan keras oleh ayah calon suaminya tepat sebelum upacara pernikahannya. Rengga merasakan mEmeknya mengencang pada batang k0ntolnya, dan kali ini, dia merasa seluruh tubuh Pipit mengejang sepanjang orgasmenya.

Wanita ini adalah pemandangan terindah yang pernah disaksikannya, punggungnya melengkung ke belakang ke arahnya seperti sebuah busur panah yang direntangkan, matanya melotot indah, mulutnya ternganga dalam lenguhan bisu. Rengga bahkan dapat merasakan pancaran dari orgasmenya menjalari batang k0ntolnya ketika dia tetap menyetubuhinya.  Dia telah membuatnya mendapatkan orgasme seperti ini selama tiga kali, hingga dia nyaris rubuh di atas washtafel, menerima hentakannya, mEmeknya hampir terasa kelelahan untuk orgasme lagi. Tapi Rengga tahu bagaimana membawanya ke sana.  “Kamu mengharapkan spermaku, iya kan, Pipit? Kamu ingin agar aku mengisimu dan membuat mEmekmu terlumuri spermaku yang sudah mengering ketika berjalan di altar pernikahanmu, benar kan wanita jalangku?”  “Oh ya… yaaa!” sang pengantin wanita mulai kesulitan bernafas dan Rengga dapat merasakannya menyempit. Rengga melesakkan batang k0ntolnya sedalam yang dia mampu, dengan setiap dorongan yang keras, dan segera saja dia merasakan sensasi terbakar itu A?a,?aEs dan dia tahu dia tak mampu menahannya lebih lama lagi. Tepat ketika k0ntolnya melesak jauh ke dalam mEmek calon istri putranya, menyemburkan cairan sperma yang banyak ke dalam kandungannya, dia merasakan tubuh Pipit menegang dan orgasme untuk sekali lagi. 

Dicabutnya batang k0ntolnya keluar, menyaksikan lelehan sperma yang mengalir turun di pahanya menuju ke kaitan stocking pernikahannya. Rengga tersenyum.  “Aku akan menunggu di mobil, Pipit…”  Perlahan Pipit bangkit, masih menggelenyar karena sensasi itu, wajahnya memerah, lututnya lemah, mEmeknya berdenyut dan bocor.  “Mmm, baiklah ayah.”  Dia memutuskan untuk melakukan “tradisinya” dan dan mengorek sperma ayah Bima dari pahanya dengan jari tangan kirinya yang dilingkari oleh cincin berlian pemberian Bima.  Ketika Rengga melihat mempelai wanita putranya masuk ke dalam mobil, sudah rapi dan bersih, terlihat segar serta berbinar wajahnya dan siap untuk upacara pernikahan, sedangkan bayangannya yang terpantul dari kaca mobil adalah ketika Pipit memandang tepat di matanya dan menjilat spermanya dari cincin berlian pemberian putranya.  Demikianlah cerita bokep seks SI TANTE CANTIK NAFSUAN dan GAME SEKS CALON PENGANTIN oleh cerita sex hot